{"id":416,"date":"2024-06-20T17:06:00","date_gmt":"2024-06-20T17:06:00","guid":{"rendered":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/?p=416"},"modified":"2024-12-10T17:21:14","modified_gmt":"2024-12-10T17:21:14","slug":"pupuk-organik-cair-poc-dari-urine-kelinci","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/?p=416","title":{"rendered":"PUPUK ORGANIK CAIR (POC) DARI URINE KELINCI"},"content":{"rendered":"<p>Bentuk pupuk cair dalam bentuk cair dapat mempermudah tanaman dalam menyerap unsur-unsur hara yang terkandung dalamnya jika dibandingkan dengan pupuk lain dalam bentuk pupuk padat (Yuartaria, et al, 2017). Manure atau sering disebut kotoran kelinci adalah limbah kelinci yang kaya akan nutrisi yang dapat di manfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan pengolahan sederhana, urine kelinci dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk meningkatkan produktifitas tanaman, meningkatkan kesuburan tanah yang hilang akibat sistem pertanian yang intensif, dan menggemburkan tanah (Edi &amp; Mardiani). Urine kelinci mengandung unsur hara yang tinggi N 4%; P2O52,8%; dan K2O 1,2% relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan hewan ternak lainya seperti kambing dan sapi (Balittanah, 2006).<\/p>\n<p>Pengolahan sederhana urine kelinci dapat berpotensi sebagai penunjang pertanian organik yang berkesinambungan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman, mengembalikan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia. Dinas Pertanian dan Pangan<br \/>\nKota Magelang (2017) membagikan resep pengolahan sederhana pupuk organik cair dari urine kelinci yang dapat dibuat dalam sekala rumahan, berikut bahan dan cara pembuatannya:<br \/>\nBahan :<br \/>\n\u2022\t1 liter urine kelinci<br \/>\n\u2022\t10 cc atau 1 sdm EM4<br \/>\n\u2022\t10 cc molases (dapat digantikan dengan \u00bc gula merah yang telah dicairkan)<br \/>\nCara Pembuatan :<br \/>\n\u2022\tTuangkan urine kelinci ke dalam jerigen dengan kapasitas 5 liter<br \/>\n\u2022\tCampurkan dengan molases<br \/>\n\u2022\tKocok jerigen selama 2-3 menit hingga homogeny<br \/>\n\u2022\tDiamkan di ruang teduh selama 7-8 hari hingga terfermentasi (lakukan pengecekan sesekali dengan membuka jerigen untuk membuang gas)<br \/>\n\u2022\tHari ke 7-8 fermentasi berhasil saat tutup jerigen dibuka dan tidak mengeluarkan aroma<br \/>\nCara Pemakaian<br \/>\n\u2022\tDisemprot : 1 liter POC urine kelinci dilarutkan pada 10 liter air bersih. Pada pemakaian dengan disemprot dilakukan pada sebelum matahari terik,  penyemprotan dilakukan terutama pada bagian daun. Penyemprotan dilakukan setiap 7-10 hari sekali.<br \/>\n\u2022\tDisiram : 1 liter POC urine kelinci dilarutkan dengan 1 liter air bersih, lalu disiramkan ke tanaman (Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang. 2017).<\/p>\n<p>Penulis : Martha Pereira<br \/>\nSumber :<br \/>\nBalittanah. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati (Organik Fertilizer And Biofertilizer). Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.<br \/>\nEdi. B.,  &amp; D. Mardiani. Beternak Kelinci Daging Kulit dan Pupuk. Nul Apps.<br \/>\nhttp:\/\/pertanian.magelangkota.go.id\/informasi\/artikel-pertanian\/147-subur-dengan-pupuk-organic-cair-poc-urine-kelinci<br \/>\nYuartaria. M.s., Setyobudi, L., &amp; Sugito. Y. 2017. Pengaruh Dosisi Pupuk Urine Kelinci Terhadap Pertumbuhan dan Hasil beberapa Varietas Tomat. Jurnal Produksi Tanaman. Vol 5 (1); 132-139.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bentuk pupuk cair dalam bentuk cair dapat mempermudah tanaman dalam menyerap unsur-unsur hara yang terkandung dalamnya jika dibandingkan dengan pupuk lain dalam bentuk pupuk padat (Yuartaria, et al, 2017). Manure atau sering disebut kotoran kelinci adalah limbah kelinci yang kaya akan nutrisi yang dapat di manfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan pengolahan sederhana, urine kelinci dapat &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":417,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/416"}],"collection":[{"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=416"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/416\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":420,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/416\/revisions\/420"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/417"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=416"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=416"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=416"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}