{"id":421,"date":"2024-07-15T16:19:00","date_gmt":"2024-07-15T16:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/?p=421"},"modified":"2024-12-13T16:25:25","modified_gmt":"2024-12-13T16:25:25","slug":"pupuk-cair-dari-air-kelapa-untuk-rumput-pakchong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/?p=421","title":{"rendered":"Pupuk Cair dari Air Kelapa untuk Rumput Pakchong"},"content":{"rendered":"<p>Pennisetum purpureum cv Thailand atau yang dikenal sebagai rumput Pakchong merupakan hasil persilangan antara rumput Gajah (Pennisetum purpureum Schumach) dengan Pearl millet (Pennisetum glaucum). Rumput ini dikembangkan selama enam tahun oleh Dr. Krailas Kiyothong, seorang pakar nutrisi dan pemulia tanaman (Sarian, 2013). Varietas ini memiliki keunggulan berupa pertumbuhan 13% lebih tinggi dibandingkan jenis rumput Gajah lainnya serta kemampuan regenerasi (regrowth) yang sangat cepat setelah dipangkas.<br \/>\nAir kelapa dikenal kaya akan hormon sitokinin dan auksin. Sitokinin berperan dalam mendorong pembelahan sel dengan meningkatkan sintesis protein (Harjadi, 2009), termasuk enzim yang diperlukan dalam proses mitosis. Auksin, di sisi lain, memacu pemanjangan sel sehingga batang tanaman menjadi lebih panjang. Kandungan hormon alami ini, ditambah dengan nutrisi penting seperti kalium, fosfor, dan nitrogen, menjadikan air kelapa sebagai bahan yang sangat baik untuk memacu pertumbuhan rumput Pakchong tanpa memerlukan tambahan hormon eksogen dalam jumlah besar.<br \/>\nManfaat Pupuk Cair Air Kelapa untuk Rumput Pakchong;<br \/>\n\u2022\tMeningkatkan Pertumbuhan: Sitokinin membantu mempercepat pembelahan sel, sehingga mempercepat pertumbuhan tanaman.<br \/>\n\u2022\tMemperkuat Sistem Akar: Kandungan kalium memperkokoh akar rumput.<br \/>\n\u2022\tNutrisi Lengkap: Nitrogen, fosfor, dan kalium mendukung pertumbuhan vegetatif.<br \/>\n\u2022\tKualitas Rumput Lebih Baik: Rumput menjadi lebih hijau, segar, dan berkualitas tinggi untuk pakan ternak.<br \/>\nCara Membuat Pupuk Cair dari Air Kelapa<br \/>\nBahan-bahan:<br \/>\n\u2022\t25 liter air kelapa<br \/>\n\u2022\t25 ml EM4<br \/>\n\u2022\t50 ml molase atau tetes tebu (bisa diganti dengan 50 gram gula aren, gula jawa, atau gula pasir)<br \/>\nLangkah-langkah Pembuatan:<br \/>\n\u2022\tSiapkan ember dengan saringan di atasnya, lalu masukkan air kelapa.<br \/>\n\u2022\tDi wadah terpisah, campurkan gula dan EM4, aduk hingga larut sempurna.<br \/>\n\u2022\tTuangkan larutan gula ke dalam ember berisi air kelapa, lalu aduk hingga merata.<br \/>\n\u2022\tTutup rapat ember dan simpan di tempat teduh, jauh dari sinar matahari langsung.<br \/>\n\u2022\tAduk campuran setiap hari selama satu menit, dari hari kedua hingga hari kesepuluh.<br \/>\n\u2022\tProses fermentasi selesai ketika tercium aroma menyerupai tape.<br \/>\nPenggunaan:<br \/>\nSebelum diaplikasikan, larutkan pupuk dengan air. Untuk setiap 10 ml pupuk cair, tambahkan 1 liter air. Semprotkan larutan ini ke tanaman setiap minggu.Dengan memanfaatkan pupuk cair berbahan dasar air kelapa, rumput Pakchong dapat tumbuh lebih subur dan menghasilkan hijauan berkualitas tinggi untuk pakan ternak<\/p>\n<p>Penulis : Lutvi Ngaini<\/p>\n<p>Sumber :<br \/>\nSarian, Z.B. 2013. Ausper gra ss form Thailand. Available at http:\/\/zacsarian.com\/2013\/06\/01\/a-super-grass-form-thailand\/<br \/>\nHarjadi, S. S. 2009. Zat Pengatur Tumbuh. PT. Gramedia. Jakartal pertanianku.com<\/p>\n<p>Sumber Gambar :<br \/>\nhttps:\/\/images.app.goo.gl\/FRrzx4EmCiiXXDuf9<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pennisetum purpureum cv Thailand atau yang dikenal sebagai rumput Pakchong merupakan hasil persilangan antara rumput Gajah (Pennisetum purpureum Schumach) dengan Pearl millet (Pennisetum glaucum). Rumput ini dikembangkan selama enam tahun oleh Dr. Krailas Kiyothong, seorang pakar nutrisi dan pemulia tanaman (Sarian, 2013). Varietas ini memiliki keunggulan berupa pertumbuhan 13% lebih tinggi dibandingkan jenis rumput Gajah &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":422,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/421"}],"collection":[{"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=421"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/421\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":423,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/421\/revisions\/423"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/422"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=421"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=421"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/himapet.fp.unila.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=421"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}