Uncategorized

PEMANFAATAN BUNGKIL KOPRA SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF TERNAK RUMINANSIA

Biaya pakan menjadi faktor paling dominan dalam menentukan tingkat keuntungan usaha peternakan. Peternak mengalokasikan lebih dari separuh biaya operasional untuk keperluan pakan ternak. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan bahan pakan alternatif yang ekonomis, bergizi tinggi, dan mudah diperoleh. Bungkil kopra merupakan salah satu bahan yang banyak tersedia di wilayah beriklim tropis, yaitu produk sampingan dari pengolahan daging kelapa kering setelah proses ekstraksi minyak.

Bungkil kopra memiliki kandungan nutrisi yang memadai sebagai bahan campuran ransum ternak. Bahan ini mengandung protein nabati cukup tinggi sehingga dapat mensubstitusi sebagian bahan protein impor seperti bungkil kedelai yang harganya mahal. Bahan ini memiliki kelemahan berupa kandungan serat kasar yang tinggi dan adanya residu minyak. Peternak memerlukan pemahaman mengenai komposisi nutrisi dan teknik pengolahannya agar pemanfaatan bahan ini optimal pada ternak ruminansia.

Bungkil kopra mengandung protein kasar berkisar 18–25%, bergantung pada metode ekstraksi dan jumlah minyak yang tersisa. Bahan ini juga memiliki kandungan lemak antara 6–12% serta serat kasar sekitar 12–16%. Mineral penting seperti kalsium, fosfor, dan magnesium terdapat dalam jumlah sedang dan tetap bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak.

Metode pemrosesan memengaruhi perbedaan kandungan nutrisi antarjenis bungkil kopra. Bungkil hasil pengepresan mekanik menyisakan kadar minyak lebih tinggi dibandingkan hasil ekstraksi pelarut. Lemak sisa ini dapat berfungsi sebagai sumber energi tambahan, tetapi penggunaannya harus dikontrol agar tidak mengganggu aktivitas mikroorganisme rumen.
Bungkil kopra mengandung asam amino esensial seperti lisin dan metionin dalam jumlah lebih rendah dibandingkan bungkil kedelai. Peternak perlu mengombinasikan bahan ini dengan sumber protein lain agar keseimbangan nutrisi ransum tetap terpenuhi.

Ternak ruminansia memiliki keunggulan dalam memanfaatkan pakan berserat tinggi karena mikroorganisme rumen dapat menguraikan serat menjadi energi. Keadaan ini membuat bungkil kopra lebih cocok digunakan untuk ternak ruminansia daripada non-ruminansia. Mikroba rumen mengubah sebagian protein bungkil kopra menjadi senyawa sederhana yang kemudian disintesis ulang menjadi protein mikroba, sedangkan sisanya dicerna di usus halus sebagai bypass protein.

Peternak dapat menggunakan bungkil kopra sebagai bahan utama konsentrat untuk sapi potong, sapi perah, dan kambing. Penggunaan hingga 20–30% dari total bahan kering tidak menurunkan produksi susu atau pertambahan bobot badan, dengan syarat rasio hijauan dan konsentrat disusun secara proporsional. Kandungan lemak berlebih harus dihindari karena dapat menghambat aktivitas mikroba rumen. Keseimbangan komposisi pakan menjadi kunci agar fermentasi berlangsung optimal.

Beberapa perlakuan dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas bungkil kopra:
Fermentasi Mikroba
Mikroba seperti Aspergillus niger, Saccharomyces cerevisiae, dan Lactobacillus sp. dapat meningkatkan kecernaan protein dan menurunkan kadar serat. Proses ini juga dapat mengurangi zat antinutrisi serta memperbaiki aroma pakan sehingga ternak lebih menyukai pakan tersebut.
Penambahan Enzim Pencernaan
Enzim seperti mannanase dan selulase berfungsi memecah dinding sel tanaman sehingga nutrisi menjadi lebih mudah dicerna. Metode ini sangat efektif bila bungkil kopra digunakan sebagai bahan konsentrat.
Pemanasan Terkendali
Pengeringan atau pemanasan suhu sedang dapat menurunkan kadar minyak dan memperpanjang daya simpan. Suhu terlalu tinggi harus dihindari karena dapat merusak asam amino esensial, terutama lisin.

Pengolahan yang tepat dapat meningkatkan nilai gizi bungkil kopra sehingga pemanfaatannya menjadi lebih efisien.
Pemanfaatan bungkil kopra memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan secara simultan. Bahan ini jauh lebih murah dibandingkan sumber protein impor. Ketersediaannya yang melimpah di daerah penghasil kelapa membantu peternak menekan biaya pakan sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Dari aspek lingkungan, pemanfaatan bungkil kopra dapat mengurangi limbah industri kelapa yang berpotensi mencemari lingkungan. Limbah padat yang semula tidak bernilai ekonomi dapat diolah menjadi pakan bergizi tinggi. Hal ini sesuai dengan konsep peternakan berkelanjutan yang mengutamakan efisiensi sumber daya lokal dan menerapkan ekonomi sirkular, di mana limbah diubah menjadi produk berguna.

Penggunaan bungkil kopra harus dibatasi meskipun bahan ini memiliki sejumlah keunggulan sebagai pakan ternak. Proporsi serat kasar dan lemak yang relatif tinggi dapat menjadi hambatan utama ketika jumlahnya dalam ransum melampaui batas optimal. Serat berlebihan menyebabkan proses pencernaan berjalan lebih lambat sehingga ternak merasa kenyang lebih cepat dan tingkat konsumsi pakan menjadi menurun. Kadar lemak tinggi dapat menghambat aktivitas mikroba rumen, khususnya pada ternak ruminansia seperti sapi dan kambing, karena lapisan lemak menutupi partikel serat dan mengurangi efektivitas fermentasi di dalam rumen. Efisiensi pemanfaatan nutrisi dari bahan pakan mengalami penurunan sehingga pertumbuhan dan produksi ternak terdampak negatif.

Bungkil kopra mengandung kalsium dalam jumlah rendah, sehingga penggunaannya tanpa penambahan sumber mineral tambahan dapat menyebabkan ketidakseimbangan rasio kalsium dan fosfor dalam tubuh ternak. Ketidakseimbangan mineral ini dapat mengganggu proses metabolisme, pertumbuhan tulang, serta produksi susu pada hewan perah. Peternak perlu melakukan formulasi ransum yang tepat dengan menambahkan bahan lain seperti tepung tulang, kapur pakan, atau sumber mineral komersial untuk melengkapi kebutuhan kalsium dan fosfor.

Kondisi penyimpanan memegang peranan krusial dalam menjaga mutu bungkil kopra tetap optimal. Bahan pakan ini memiliki sifat higroskopis yang tinggi sehingga mudah menarik uap air dari udara sekitarnya. Kelembapan yang terserap akan menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan jamur dan mikroorganisme pembusuk. Kontaminasi jamur tidak hanya menurunkan nilai nutrisi bahan, tetapi juga dapat menghasilkan mikotoksin yang berbahaya bagi kesehatan ternak.

Ruang penyimpanan harus dipilih dengan cermat untuk mencegah kerusakan bahan. Lokasi sebaiknya memiliki kelembapan udara rendah, kebersihan terjaga, serta sirkulasi udara yang lancar. Ventilasi yang memadai akan membantu mengurangi penumpukan kelembapan dan panas yang berlebihan. Wadah penyimpanan perlu dibuat dari bahan yang tidak menyerap air, seperti drum plastik atau karung berlapis yang kedap udara.

Suhu ruangan juga perlu diperhatikan karena suhu tinggi dapat mempercepat proses oksidasi lemak dalam bungkil kopra. Oksidasi ini akan menyebabkan pakan menjadi tengik dan tidak disukai ternak. Peternak disarankan melakukan inspeksi rutin terhadap kondisi bahan yang disimpan. Pemeriksaan visual terhadap warna, aroma, dan tekstur dapat mendeteksi tanda-tanda kerusakan sejak dini.

Durasi penyimpanan tidak boleh terlalu lama karena semakin lama disimpan, kualitas bahan akan semakin menurun. Sistem rotasi stok dengan prinsip “first in, first out” perlu diterapkan agar bahan yang lebih dulu masuk digunakan terlebih dahulu. Penerapan manajemen penyimpanan yang baik akan menjamin bungkil kopra tetap berkualitas hingga saat diberikan kepada ternak.

Bungkil kopra merupakan bahan pakan lokal yang layak dipertimbangkan sebagai sumber protein nabati untuk ternak ruminansia. Kandungan protein yang memadai, harga terjangkau, dan ketersediaan luas menjadikannya pilihan efisien dan berkelanjutan. Penggunaannya sebaiknya dibatasi sekitar 20–30% dari total bahan kering, dengan perlakuan fermentasi atau penambahan enzim untuk meningkatkan kecernaan. Pengelolaan yang cermat akan membantu peternak menekan biaya produksi tanpa mengurangi produktivitas, sekaligus mendukung praktik peternakan ramah lingkungan melalui optimalisasi pemanfaatan limbah kelapa.

Penulis: Edo Radhitya
Sumber :
https://www.mdpi.com/2076-2615/14/11/1689
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7260349/
Sumber Gambar :
https://www.indotrading.com/showcase/kopra

You may also like...

1 Comment

  1. Himapet Unila says:

    informatif dan mudah dipahami

Leave a Reply to Himapet Unila Cancel reply

Your email address will not be published.